Pembelajaran Kontekstual

Dalam menyediakan pembelajaran yang berkualitas bagi peserta didiknya, pendidik dituntut buat senantiasa belajar dari lalu dengan pendidik lainnya. Lebih jauh, pendidik juga disyaratkan tidak takut untuk menjelajah dan bereksperimen dengan metode-metode pembelajaran yang menjanjikan lalu telah terbukti efektivitasnya sebagai upaya untuk memperbaiki praktik pengajarannya. Untuk mewujudkan budaya belajar ini, pendidik penting untuk terlibat aktif di dalam jejaring profesinya, baik lingkup lokal maupun global, serta selalu memperbarui pengetahuannya terkait hasil-hasil penelitian dalam bidang ilmu pendidikan. Metode yang digunakan penulis untuk mengukur pemanfaatan e-learning sebagai media pembelajaran bagi siswa serta guru menggunakan pendekatan survey. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik observasi secara intensif terhadap pemanfaatan pembelajaran e-learning di SMK Negeri Kendal.

Siswa dapat belajar di rumah, mengerjakan soal-soal latihan seperti yang timbul pada metode pembelajaran tradisional. Interaksi antara pengajar dan pelajar masih tetap berlangsung dengan media yang memungkinkan interaksi tersebut terjadi. Pergeseran paradigma sistem pembelajaran mulai nampak pada proses exchange pengetahuan. Proses pembelajaran dalam ada sekarang ini condong lebih menekankan pada cara mengajar, berbasis pada isi, bersifat abstrak dan sebatas untuk golongan tertentu. Seiring perkembangan ilmu dan teknologi ICT, proses pembelajaran mulai bergeser pada proses belajar, berbasis pada masalah, bersifat kontekstual dan tidak terbatas hanya untuk golongan terpilih.

Padaproses pembelajaran seperti terkait siswa dituntut untuk lebih aktif dengan mengoptimalkan sumber-sumber belajar yang ada. Tuntutan yang harus dilaksanakan sekolah dalam pelaksanaan proses pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi menghadapi seluruh kendala yang tidak biasa. Masalah utama yang seringkali dihadapi oleh pihak sekolah dan guru adalah keterbatasan sarana prasarana, sumber daya manusia dan sumber belajar. Perkembangan teknologi informasi lalu komputer yang sangat cepat akhir-akhir ini, mendapat sambutan positif di masyarakat. Departemen Pendidikan Nasional sebagai organisasi yang berfungsi mengelola kemampuan di Indonesia menyambut baik perkembangan ICT dengan memasukkan kurikulum yang bernuansa pemahaman teknologi informasi dan kontak, terutama di jenjang pendidikan menengah.

Pemahaman e-learning sedikit lebih pengiriman materi pembelajaran melalui suatu media elektronik seperti Internet, intranet/extranet, satelit, broadcast, audio/video tape, interactive TV, CDROM, dan computer-based training. E-learning sebagai penggunaan teknologi elektronik untuk mengirim, mendukung, dan meningkatkan pengajaran, pembelajaran dan penilaian. Oleh karena itu e-learning adalah bagian untuk pembelajaran jarak jauh, sedangkan pembelajaran on-line adalah periode dari elearning, sementara tersebut pembelajaran on-line adalah bagian dari pembelajaran berbasis teknologi yang memanfaatkan sumber daya internet, intranet, dan extranet. Begitu juga pembelajaran berbasis media HP merupakan periode dari e-learning. Sistem pembelajaran jarak jauh merupakan sebuah metode instruksional antara pengajar dan pelajar untuk menyediakan kesempatan belajar tanpa dibatasi oleh kendala waktu, ruang dan tempat serta keterbatasan sistem pendidikan tradisional. Di sistem pembelajaran jarak jauh, pelajar tidak perlu muncuk kuliah, mendengarkan pengajar mengajar dan aktivitas pembelajaran biasa lainnya.

Sampel dipilih secara arbitrary dengan mengambil 2 kelas jurusan multimedia di SMK Negeri Kendal. Sampai kini masih belum ada common yang baku baik pada hal definisi maupun implementasi e-learning.

Inilah yang sering tidak diperhatikan guru dalam memulai pembelajaran, sehingga pada dalam kelas ketiika memperoleh hal-hal yang tidak sesui dengan kehendaknya misalnya siswa yang ngantuk dan main maka yang disalahkan ialah siswa. Media pembelajaran biasanya dipahami sebagai benda-benda yang dibawa masuk ke ruang kelas untuk membantu efektivitas proses belajar mengajar. Pemahaman sempit ini dipengaruhi dengan pandangan cognitivism yang menengok proses belajar sebagai transfer pengetahuan dari pengajar ke peserta didik yang umumnya berlangsung dalam ruang kelas. Jika menggunakan pandangan constructivism maka pengertian belajar serta media pembelajaran menjadi bertambah luas. Media pembelajaran tidak terbatas pada apa dalam digunakan pengajar di di dalam kelas, tetapi pada prinsipnya meliputi segala sesuatu yang ada di lingkungan peserta didik dimana mereka berinteraksi dan membantu proses belajar mengajar.

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>